Minggu, 16 Maret 2014

Syukur.

Pagi ini, seperti pagi-pagi kemarin, kucoba untuk memperhatikan raut wajah setiap orang yg melewatiku. Mulai dari keluar rumah, di angkutan umum, perjalanan ke halte, di busway,sampai melangkahkan kakiku untuk masuk ke ruangan.
80%  dari raut wajah yg kuperhatikan, kelihatan tidak cukup gembira. Entah karena masalah pribadi, keharusan untuk bangun pagi untuk menghindari kemacetan, belum sarapan, dan lain-lain. Sempat terlintas, mungkin memang kita sebagai manusia masih sangat kurang bersyukur. Bukankah ketika kita bangun pagi ini, menghirup nafas di hari yg baru sudah merupakan anugerah yg diberikan Allah SWT kepada kita? Bukankah dengan diberinya kita kesempatan untuk satu hari lagi menikmati hidup merupakan suatu hal yg bisa membahagiakan?
Memang benar yg dikatakan, kepuasan manusia tidak ada batasannya. Hal kecil yg sangat layak untuk disyukuri pun kadang kita lupa untuk mensyukurinya.
Aku teringat saat malam hari, saat aku pulang dari kampus, saat berjalan di jembatan busway yg panjang dan berbelit-belit. Banyak keluhan yg ku lontarkan dalam hati. Tas ransel yg berat, panjangnya jembatan busway yg terkadang membuat muak, dan harus tetap berjalan dengan sisa-sisa tenaga di tambah rasa lapar dan berharap sesampaiku dirumah masih ada beberapa makanan yg bisa di makan tanpa harus dimasak terlebih dahulu.
Tak lama aku lihat seorang kakek tua sedang menyebarang jalan tepat di bawah jembatan yg sedang ku lewati, dengan wajah lemas ia terus menopang kardus yg besar dan mungkin lebih berat dari ransel yg ku bawa. Dan mungkin rasa lapar yg kurasakan tak seberapa jika di bandingkan kakek tersebut, dirumah pasti ada makanan, walau harus di masak terlebih dahulu, setidaknya ada hal yg bisa di makan. Bagaiman dengan kabar kakek tersebut? lagi pula aku jauh lebih muda darinya.
Dan salah satu yg kupikirkan saat melihatnya adalah dimana keluarganya? Mana anaknya? Mengapa ia sendiri? Dan aku berharap agar orang tuaku nanti tak sendiri di hari tuanya, aku ingin terus menemaninya dan mengabulkan impian-impiannya terdahulu yg tertunda karena lebih memikirkan impian-impian anaknya.

Banyak hal yg harusnya ku syukuri atas nikmat yg di berikan olehNYA. Dan banyak waktu yg harus kusesali karna menyia-nyikan dan terkadang lebih memilih menikmati nikmatNYA namun tidak membalas nikmat-nikmat tersebut dengan rasa syukur kepadaNYA. 

Sabtu, 15 Maret 2014

Waktu.


 Namaku waktu, aku di besarkan oleh penantian dan kesabaran. Aku tak pernah berhenti meskipun aku merasa berat tuk melangkah. Aku tak pernah menyerah meskipun sebenarnya sering sering terbesit dipikiranku tuk berhenti.Sahabatku adalah tekad, dia seorang yg gigih menemaniku hingga bisa membawaku kepada kekuatan yg tak terhingga.Tekad telah memperkenalkan ku pada disiplin, dan tekad pula yg memperkenalkanku pada kerja keras.Semua menjadi lebih indah dan aku menjadi merasa sangat berharga ketika disiplin dan kerja keras merangkulku.

Meskipun aku hanya ada sebentar saja, namun berkat disiplin dan kerja keras aku telah di kenang selama-lamanya. Semakin lama, akupun semakin mengerti hendak kemana aku akan pergi. Penantian dan kesabaran telah membesarkanku dengan sempurna, aku tak kenal lelah sehingga bisa mengenal disiplin dan kerja keras.Hingga suatu saat nanti, ketika aku telah terhenti, penantian dan kesabaran serta disiplin dan kerja keras akan bangga mengenangku.

Selasa, 11 Maret 2014


SAHABAT.




Dalam hening aku teringat
Pada sebuah percakapan hangat
Betapa saat itu kita merasa bersemangat
Pada apa yg dinamakan nikmat


Aku lupa akan rasa bosan
Yg ada hanya doa dan harapan
Ribuan lagu berdendang perlahan
Menatap segala kegundahan


Dalam doa aku meminta
Untuk sebuah rasa bahagia
Bahagia untuk kita bersama
Bersama dalam rasa keluarga


Kita adalah sahabat
Pertemanan yg begitu dekat
Tak ada satupun mengikat
Namun segala cerita begitu melekat


Rumah ini bewarna biru
Telah mempertemukan aku dan kamu
Hingga timbul rasa rindu
Ingin rasa selalu bertemu


Kenang aku saat tak ada lagi aku
Pada titik beku kita akan tetap satu
Emosi yg ada tak akan jadi belenggu
Itu hanya pelengkap rindu


Kamu sudah menjadi inspirasi
Memberikan beragam informasi
Tanpa meminta belas kasih
Aku ucapkan terima kasih.

Sabtu, 08 Februari 2014

Surat MELANKOLIS untuk penakluk KOLERIS.



Kepada Pria Luar Biasa yang (memilih untuk) Bertahan.



Entah seperti apa rupamu, seberapa tinggi jinjitku tiap kali ingin mengecup keningmu, seberapa teduh mata yang menenangkan ledakanku, seberapa lebar bidang bahu yang rela menampung lelahku bersandar, entah seberapa hebat makna yang terkandung pada nama pemberian orang tuamu, entah siapa namamu, yang pasti, ketika engkau membaca surat ini, aku berterima kasih, terima kasih telah bertahan, terima kasih telah memilih untuk tetap ada di sini, membaca surat yang membuatku geli mengingat saat ini ketika akhirnya kau terima dan baca surat ini dengan di sisiku. 


Aku penasaran bagaimana caramu melunakkan keras kepala yang selama ini menjadi biang keladi aku kesepian ditinggalkan, bagaimana caramu bertahan mendengar dan mengerti ocehanku yang cepat dan tidak pernah berhenti sepanjang kebersamaan, bagaimana caramu meyakinkan dirimu untuk yakin kepada wanita pemarah yang bahkan tidak tau bagaimana cara menyetrika pakaian seperti aku?


Engkau, pria yang telah memilih untuk bertahan, siapkah menghabiskan hitam rambutmu dengan melihat keriput tumbuh di sudut mataku?  Sabarkah menunggu dan menghabiskan sarapan yang kubuat dengan lama sambil mencontek buku resep di awal pernikahan kita?  Kuatkah  melihatku latah menangis tiap kali melihat orang menangis? Kuatkah engkau  membunuh egoku demi melahirkan kebahagiaan kita? Sudikah kau mencintaiku tanpa perlu membuatku membenci sosok mudaku yang telah banyak ditinggalkan cinta dan cerita?


Entah apa jawabanmu, namu Priaku, percayalah, ketika kau membaca surat ini, aku mencintaimu dengan segala kekaguman atas keputusanmu untuk bertahan, untuk kesabaran menghadapi amarah-amarah beralasan konyol ala perempuan rendah diriku, untuk kehebatanmu menaklukkan tak mau kalah dan egoisku. Sungguh, aku pasti sangat menggilaimu hingga akhirnya kita bisa bersama.


Priaku, percayalah, ketika nanti aku berulah, cemburu dan marah, semuanya karena aku takut kehilanganmu, karena aku pasti sangat takut cerita kita menjadi kenangan seperti cerita-cerita yang kini banyak kusesali di masa mudaku. Percayalah, jika perempuan pemarah ini akhirnya tenang dan menjadikanmu pemenang, ia benar-benar telah jatuh cinta pada caramu membuatnya kembali mempercayai. 


Wanita yang saat ini menahan malu menunggumu selesai membaca surat ini di sampingmu.





Kamis, 16 Januari 2014

Find something?

Kalau kamu mencari sesuatu maka kemungkianannya adalah kamu akan menemukan dan mengakuinya, atau kecewa lalu menganggap itu tak pernah ada.
Kalau hidupmu tidak beruntung selalu menemukan orang yang tak setia maka kamu akan menganggap kesetiaan itu cuma mitos.
Kalau kamu mencari Tuhan maka kemungkinannya kamu akan jadi taat sekali atau akan jadi atheis, ...dan orang yang tidak mencari apapun, kemungkinannya ia seorang yang menerima, atau ia memang pemalas.
Seorang penerima tidak mencari yang hilang sebab ia menerima kehilangan, ia tidak mencari kebenaran sebab ia menerima dogma itu.
- bang dedo.