Kepada Pria Luar Biasa yang (memilih untuk) Bertahan.
Entah seperti apa rupamu, seberapa tinggi jinjitku tiap kali ingin mengecup keningmu, seberapa teduh mata yang menenangkan ledakanku, seberapa lebar bidang bahu yang rela menampung lelahku bersandar, entah seberapa hebat makna yang terkandung pada nama pemberian orang tuamu, entah siapa namamu, yang pasti, ketika engkau membaca surat ini, aku berterima kasih, terima kasih telah bertahan, terima kasih telah memilih untuk tetap ada di sini, membaca surat yang membuatku geli mengingat saat ini ketika akhirnya kau terima dan baca surat ini dengan di sisiku.
Aku penasaran bagaimana caramu melunakkan keras kepala yang selama ini menjadi biang keladi aku kesepian ditinggalkan, bagaimana caramu bertahan mendengar dan mengerti ocehanku yang cepat dan tidak pernah berhenti sepanjang kebersamaan, bagaimana caramu meyakinkan dirimu untuk yakin kepada wanita pemarah yang bahkan tidak tau bagaimana cara menyetrika pakaian seperti aku?
Engkau, pria yang telah memilih untuk bertahan, siapkah menghabiskan hitam rambutmu dengan melihat keriput tumbuh di sudut mataku? Sabarkah menunggu dan menghabiskan sarapan yang kubuat dengan lama sambil mencontek buku resep di awal pernikahan kita? Kuatkah melihatku latah menangis tiap kali melihat orang menangis? Kuatkah engkau membunuh egoku demi melahirkan kebahagiaan kita? Sudikah kau mencintaiku tanpa perlu membuatku membenci sosok mudaku yang telah banyak ditinggalkan cinta dan cerita?
Entah apa jawabanmu, namu Priaku, percayalah, ketika kau membaca surat ini, aku mencintaimu dengan segala kekaguman atas keputusanmu untuk bertahan, untuk kesabaran menghadapi amarah-amarah beralasan konyol ala perempuan rendah diriku, untuk kehebatanmu menaklukkan tak mau kalah dan egoisku. Sungguh, aku pasti sangat menggilaimu hingga akhirnya kita bisa bersama.
Priaku, percayalah, ketika nanti aku berulah, cemburu dan marah, semuanya karena aku takut kehilanganmu, karena aku pasti sangat takut cerita kita menjadi kenangan seperti cerita-cerita yang kini banyak kusesali di masa mudaku. Percayalah, jika perempuan pemarah ini akhirnya tenang dan menjadikanmu pemenang, ia benar-benar telah jatuh cinta pada caramu membuatnya kembali mempercayai.
Wanita yang saat ini menahan malu menunggumu selesai membaca surat ini di sampingmu.